Kamis, 26 Februari 2015
Minggu, 15 Februari 2015
Sebuah Pesan Tersembunyi

Saat kau sembunyikan daun kering di genggamanmu
Kau harus sangat berhati-hati
Karena daun kering sangatlah rapuh
Jika kau kuatkan genggamanmu, daun itu akan hancur
Namun jika kau longgarkan, daun itu akan terbang dan hilang
Sesederhana itu,
Hanya kau yang tahu harus bagaimana dalam memperlakukannya :)
Kamis, 12 Februari 2015
Inilah Caraku
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengutarakan segala hal yang sedang dia pikirkan atau rasakan.
Begitupun aku, aku memiliki caraku sendiri untuk mengungkapkannya.
Entah menceritakannya kepada orang lain, menangis, atau menulis.
Menulis adalah salah satu caranya, mengapa?
Karena dengan menulis aku dapat menumpahkan segala emosiku.
Aku menulis pun dengan caraku, tentu setiap orang memiliki cara dan tujuannya masing-masing bukan?
Tidak semua masalah dapat kuungkapkan secara terang-terangan, mungkin ada bagian yang kusembunyikan.
Namun sebenarnya tanpa kalian tau maksudnya tersirat dari kata-kata yang kutuangkan.
Karena itu adalah masalah pribadiku dan tidak seharusnya semua orang mengetahuinya.
Jadi mungkin saja ada banyak makna yang muncul dari satu tulisan yang sama.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Kemajemukan penafsiran ini terjadi pada salah satu postingan di blogku.
Ada seseorang yang membacanya dan dia menyimpulkannya sendiri.
Sebenarnya aku pun tidak tau apa yang ada di kepalanya, namun kata-kata yang dia tujukan padaku jelas sekali menggambarkan apa yang sedang dia pikirkan.
Dia mengutip beberapa kalimat yang terdapat dalam tulisanku itu.
Lalu membuat sebuah pertanyaan yang dia ajukan kepadaku melalui sebuah sosial media.
Entah dia yang selalu berpikiran negatif tentangku, atau memang ada kata-kata dalam tulisanku itu yang salah?
Namun jika dia memiliki penafsiran tersendiri aku pun mewajarinya.
Sudah kukatakan, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menafsirkan setiap tulisan.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Namun pantaskah jika menyampaikannya melalui sosial media?
Apalagi dia mengungkapkannya seakan-akan apa yang dipikirkannya itu benar tanpa menanyakan kebenarannya kepadaku.
Apakah itu pantas?
Begitupun aku, aku memiliki caraku sendiri untuk mengungkapkannya.
Entah menceritakannya kepada orang lain, menangis, atau menulis.
Menulis adalah salah satu caranya, mengapa?
Karena dengan menulis aku dapat menumpahkan segala emosiku.
Aku menulis pun dengan caraku, tentu setiap orang memiliki cara dan tujuannya masing-masing bukan?
Tidak semua masalah dapat kuungkapkan secara terang-terangan, mungkin ada bagian yang kusembunyikan.
Namun sebenarnya tanpa kalian tau maksudnya tersirat dari kata-kata yang kutuangkan.
Karena itu adalah masalah pribadiku dan tidak seharusnya semua orang mengetahuinya.
Jadi mungkin saja ada banyak makna yang muncul dari satu tulisan yang sama.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Kemajemukan penafsiran ini terjadi pada salah satu postingan di blogku.
Ada seseorang yang membacanya dan dia menyimpulkannya sendiri.
Sebenarnya aku pun tidak tau apa yang ada di kepalanya, namun kata-kata yang dia tujukan padaku jelas sekali menggambarkan apa yang sedang dia pikirkan.
Dia mengutip beberapa kalimat yang terdapat dalam tulisanku itu.
Lalu membuat sebuah pertanyaan yang dia ajukan kepadaku melalui sebuah sosial media.
Entah dia yang selalu berpikiran negatif tentangku, atau memang ada kata-kata dalam tulisanku itu yang salah?
Namun jika dia memiliki penafsiran tersendiri aku pun mewajarinya.
Sudah kukatakan, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menafsirkan setiap tulisan.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Namun pantaskah jika menyampaikannya melalui sosial media?
Apalagi dia mengungkapkannya seakan-akan apa yang dipikirkannya itu benar tanpa menanyakan kebenarannya kepadaku.
Apakah itu pantas?
Minggu, 01 Februari 2015
1095 Days in 1095 Words
Hari ini, 1 Februari 2012 lahirlah sebuah kata yaitu “kita”
Yang akan melahirkan ribuan kata dalam rangkaian cerita cinta
Kau, orang asing yang masuk ke kehidupanku tanpa kuminta sebelumnya
Sungguh singkat, tak terduga, bahkan aneh kumenyebutnya
Siapa kau? Bukan temanku, bukan sahabatku, bukan orang yang ada di sekililingku
Aku sungguh tidak mengenalmu
Bahkan pertemuan pertama kita tidak begitu istimewa
Kau hanyalah seniorku di sekolah ini yang kebetulan satu ekstrakulikuler denganku
Hari itu kau mulai mengirim sebuah pesan singkat
Lagu lama yang kau mainkan, jelas saja aku seketika menyadarinya
Hanya karena perasaan “tak enak hati” karena kau senior maka aku membalasnya
Namun anehnya, mengapa aku terus membalas pesanmu?
Sedangkan aku tau apa maksud dan tujuannya, hanya pesan berisi modus belaka
Sungguh aku
Mungkin benar yang kau katakan, kau datang di waktu yang tepat
Saat aku merasa “kosong” kau datang dan mulai mengisi relung yang kosong itu
Ah, tapi bukan itu!!
Kau bukan orang pertama yang datang saat aku merasa “kosong”
Ada orang yang datang di waktu yang lebih tepat tapi dia tidak dapat mengisinya
Kau tau? Aku mendapatkan kenyamanan darimu
Entah datang darimana, karena sikapmu sama seperti mereka yang sebelumnya telah datang padaku
Bagaimana kau dapat melakukannya?
Bahkan kau terlalu hebat dapat membuatku menceritakan masalahku saat itu
Siapa kau? Kenapa aku terlalu berani menceritakannya kepadamu?
Kau orang baru bagiku, sungguh aneh aku mempercayaimu untuk hal seperti itu
Sampai pada akhirnya datanglah tanggal 1 Februari 2012
Aku berkata “ya” untuk pertanyaanmu itu, apakah ada yang salah denganku?
Aku baru mengenalmu dua minggu lalu, waktu yang sangat singkat untuk membuat keputusan
Seketika aku tidak yakin atas jawabanku itu
Jujur, keputusanku itu tidak kupikirkan secara matang karena alhasil membuat sebuah masalah baru
Teman-temanku merasa bingung, menurutnya ini sebuah keputusan yang salah
Melihat hubunganku sebelumnya yang berakhir bukan karena masalah internal
Semuanya membuatku merasa bersalah, terutama kepadanya
Berminggu-minggu setelah aku bersamamu aku masih memikirkannya
Aku merasa menjadi orang yang sangat jahat, kepadamu maupun kepadanya
Hari demi hari kujalani bukan tanpa terpaksa, kadang aku merasa begitu bersalah
Karena di luar sana teman-temanku selalu saja mengingatkanku denganya
Namun inilah keputusanku, aku harus mempertanggungjawabkannya
Seringkali aku berpikir “sudahlah sepertinya ini tidak akan berlangsung lama”
Aku pun mulai menghilangkan perasaan bersalah kepadanya setelah sekian kali mengucap maaf
Dan mulai menjalani hubunganku yang baru denganmu
Walaupun aku masih merasa canggung dan masih menyebutmu “kakak”
Perasaan aneh ini mulai muncul di benakku yang semakin membuatku bingung
Kau mematahkan dugaanku jika hubungan ini tidak akan berlangsung lama
Hanya dalam beberapa bulan kau sudah dapat membuatku melupakannya
Membuatku merasakan sebuah rasa sayang, bukan untuknya tapi untukmu
Menjadikan rasa nyaman yang kudapatkan waktu itu terus bertambah dari sebelumnya
Sudah kukatakan, kau memang orang yang hebat
Ingatkah kau saat kita merayakan ulang tahunku yang ke-17 waktu itu?
Kau memberiku sebuah hadiah bantal berbentuk kepala doraemon yang membuatku menyukainya hingga saat ini
Walaupun hari itu kita sempat bersitegang namun kau selalu menjadikan indah pada akhirnya
Dua bulan berikutnya kita merayakan ulangtahunmu
Sajadah itu membuatmu meneteskan air mata atau karena tulisan yang kuberikan padamu?
Ku ingin kau tau akan satu hal, walaupun awalnya aku merasa ragu tapi saat itu aku telah memiliki sebuah mimpi untuk bersamamu
Sajadah itu sebagai tanda bahwa aku ingin kau menjadi imamku kelak
Namun aku masih duduk di bangku kelas satu SMA apakah terlalu dini untuk memikirkan hal seperti itu?
Tahun pertama sudah kita jalani bersama
Kesedihan, keegoisan, tawa, dan air mata telah menjadi bagiannya
Permasalahan waktu dan kesibukanku sering sekali menjadi alasannya
Namun kita mencoba untuk selalu mencari jalan keluarnya
Bukan hanya itu, beberapa masalah eksternal pun berdatanganan
Kau yang sedang menyukai temanmu dan menceritakannya kepadaku
Apakah kau sudah gila? Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaanku saat itu?
Beruntung aku bukan "drama queen" yang selalu berlebihan dalam menghadapi sebuah masalah
Jujur aku kecewa dan sakit hati atas pernyataanmu saat itu, merasa tak dihargai sama sekali
Namun aku berpikir dari sisi positifnya, kau sudah berani jujur dan membicarakannya langsung denganku
Sehingga aku tidak perlu mendengar dari mulut orang lain yang pasti sudah dibubuhi bumbu-bumbu penyedap lainnya
Setidaknya aku masih menghargai kejujuranmu itu
Aku pun sadar perasaan itu adalah milikmu, dan bukan hakku mencampuri kepada siapa kau akan memberikannya
Sampai dua tahun berjalan kita pun mulai merasa jenuh
Karena hubungan yang kita jalani ini backstreet tanpa sepengetahuan orangtuaku
Kau hanya mengantarku ke depan gang rumahku
Jika ingin pergi pun sulit karena tidak mendapatkan izin dari orangtuaku
Sampai pada akhirnya kita sepakat untuk break, yang sebenarnya aku pun tidak mengerti apa maksud dari kata itu
Kita sudah jarang berkomunikasi, atau mungkin hampir tidak pernah
Kau mulai dekat dengan beberapa teman perempuanmu salah satunya dia, kau pasti tau siapa dan begitu pula aku
Bahkan kita seperti menemukan dunia kita masing-masing tanpa melibatkan satu sama lain
Sampai pada akhirnya semua itu hanyalah rangkaian cerita yang tidak selesai
Kita sama-sama menghentikannya di tengah jalan dan kembali
Kembali kepada seseorang yang tetap membuatmu nyaman kala raga tak bersama
Benar apa yang orang katakan di luar sana tentang istilah rumah dengan cinta
Seberapa sering pun kita singgah di berbagai tempat, kita tetap akan kembali ke rumah kita sendiri
Dan inilah yang terjadi pada kita saat ini, kita kembali melanjutkan mimpi yang sempat terhenti
Kisah kita terlalu rumit, aku sulit sekali untuk memahaminya
Kenapa kita mampu berjalan sejauh ini bersama?
Sampai pada akhirnya kita menginjakan kaki di hari ini 1 Februari 2015
Inikah jawaban atas semua bisikan doa yang kupanjatkan saat senja maupun petang?
Entahlah.....
Yang pasti semua perkataanmu selalu berbisik di telingaku dan selalu membuat mataku berkaca-kaca
Saat kau katakan "aku akan bertahan walau bagaimanapun mengesalkannya dirimu, aku akan tetap melanjutkan mimpi kita dan selalu memperjuangkannya"
1095 hari kita bersama, dengan begitu banyak rintangan di dalamnya
Apakah itu waktu yang lama? Atau justru hanya sebagian kecil dari waktu yang ada?
Entahlah……
Yang aku tahu di tanggal satu bulan dua tahun ketiga ini kita masih bersama
Untuk tetap saling berbagi cerita, tetap melanjutkan mimpi yang ada
Terimakasih atas segalanya, entah itu senyuman ataupun air mata
Kau telah mengajarkanku banyak hal, tentang makna cinta dalam sebuah kehidupan
***
Untukmu,
Wahai orang asing yang datang dalam kehidupanku
Kau membawaku ke dalam sebuah rangkaian cerita cinta yang rumit
Namun aku bersyukur atas segalanya
Atas dipertemukannya kita di hari itu, atas pertanyaanmu dan jawabanku
Terimakasih atas ketulusan cinta, pengorbanan, serta kesabaranmu
Wahai orang asing yang datang dalam kehidupanku
Kau membawaku ke dalam sebuah rangkaian cerita cinta yang rumit
Namun aku bersyukur atas segalanya
Atas dipertemukannya kita di hari itu, atas pertanyaanmu dan jawabanku
Terimakasih atas ketulusan cinta, pengorbanan, serta kesabaranmu
Terimakasih atas segala perubahan yang kau lakukan untukku
Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi apa yang kau mau
Maaf jika aku selalu membuatmu kesal atas segala sikapku
Kuharap kau selalu berada disini untuk membimbingku
Berjalan bersama untuk mewujudkan mimpi kita
Because I loved you yesterday, I love you still, I always have, and I always will :)
Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi apa yang kau mau
Maaf jika aku selalu membuatmu kesal atas segala sikapku
Kuharap kau selalu berada disini untuk membimbingku
Berjalan bersama untuk mewujudkan mimpi kita
Because I loved you yesterday, I love you still, I always have, and I always will :)
Langganan:
Postingan (Atom)
