Mungkin, wanita memang aneh
Terkadang mereka hanya mampu merasakan tanpa mampu
mengutarakannya
Bahkan yang lebih aneh, terkadang hal-hal tersebut
datang begitu saja
Tanpa sebab yang jelas dan tanpa maksud yang pasti
Keanehan yang terjadi pada sebagian besar wanita itu
terjadi pula padaku
Aku yang dalam satu hari ini biasa saja dapat
berubah seketika
Saat petang datang, entah apa yang tiba-tiba membuat
pikiranku tiba-tiba bercabang
Yang pada akhirnya membuat air mata itu jatuh tanpa
kusadari
Namun, aku akan membela diri
Aku tidak se-“aneh” itu, iya tentu saja tidak
Damainya petang dan sejuknya hujan mungkin yang
menjadi alasannya
Air mata yang jatuh pun bukan semata-mata aku
bingung, namun dengan sebab yang pasti
Kau sering bilang padaku agar aku mencoba untuk
lebih sering dalam intropeksi diri
Apa saja yang telah aku lakukan, katakan, dengarkan,
atau rasakan
Yang tanpa disengaja aku telah melakukannya hari ini
Intropeksi yang bukan sekedar diam, memikirkannya,
atau merenunginya
***
Dalam petang, 17 Mei 2016
Rasanya seperti ada yang sengaja menampilkan rekamanku barusan
Beberapa waktu silam yang tiba-tiba hadir di
hadapanku
Waktu-waktu mudah dan sulitku
Bahagia dan sedihku, juga semua hal yang pastinya
tentang aku
Semuanya mengingatkanku akan perjuangan yang harus
terus aku perjuangkan
Tentang penyesalan yang harus aku
pertanggungjawabkan
Tentang nikmat yang harus terus aku syukuri
Tentang kebanggaan yang harus aku pertahankan
Tentang kebohongan yang harus aku akui
Tentang amanah yang harus aku emban
Tentang kewajiban yang harus aku laksanakan
Tentang hak yang harus aku penuhi
Tentang lupa yang harus selalu aku ingat
Tentang kebaikan yang harus aku lupakan
Tentang kejahatan yang harus aku maafkan
Tentang kesalahan yang harus aku perbaiki
Dan tentang niat yang harus aku luruskan
Itu semualah yang membuat air mataku tiba-tiba jatuh
Antara rasa bahagia, haru, sedih, marah, kesal,
malu, semuanya menjadi satu
Aku sadar, mungkin selama ini aku terlalu
membanggakan apa yang telah aku lakukan
Pujian yang membuatku lupa bahwa sesungguhnya itu
bukanlah apa-apa
Menutup mata dan telinga ketika datangnya kritikan
Memunculkan rasa acuh saat perasaan kita yang
sesungguhnya mengakuinya
Apakah kalian sering merasakan ini?
Atau mungkin hanya aku yang terlalu naif?
Hanya kata maaf dan terimakasih yang aku ucapkan
saat itu
Kepada orang-orang yang baru saja datang di pikiranku
Tentang perilaku atau ucapanku terhadap mereka semua
Namun hanya dari sini, bukan langsung dihadapannya
Sesak, itulah yang aku rasakan saat ini dibalik
berjuta perasaan yang muncul
Mencoba menenangkan diri dengan melantunkan ayat-Mu
Mungkin selama ini aku mendapatkan ketenangan yang
salah
Atau lebih tepatnya ketenangan yang semu
Dan..seperti biasa aku hanya mampu merasakannya
Tanpa mampu mengutarakan yang sebenarnya
Bukan, bukannya aku tidak mau
Namun aku terlalu bingung dalam memulainya
Terkadang, apa yang kita ucapkan belum tentu sama
seperti yang mereka dengar
Mungkin dapat menghilangkan sedikit sesak karena
telah berbagi cerita itu
Namun, itulah yang aku bilang ketenangan yang semu
Bukankah kita akan lebih bebas dalam bercerita dalam
doa?
Dan apa yang kita ucapkan pasti tersampaikan dengan
baik tanpa ada kesalahan
Sesungguhnya Dia yang paling mengetahui isi hati
bukan?
Dari sanalah kita mampu mendapatkan ketenangan yang
hakiki yang sesungguhnya kita butuhkan
Namun aku tetap senang jika harus berbagi cerita
Sesungguhnya itu salah satu kebutuhan kita sebagai
makhluk sosial dan aku tidak memungkiri itu
Aku suka jika harus membaginya dengan orangtuaku
atau denganmu
Walaupun tidak semuanya, namun sebagian besar dari
semua yang aku alami
Ini bukan tentang wanita, ini tentangku
Aku yang mampu merasakan dan mengutarakan
Namun dengan cara yang berbeda
Apakah itu dengan berdoa, menangis, bercerita, atau
menulis
Tentu, setiap hal memiliki cara pengutaraan yang berbeda
0 komentar:
Posting Komentar