Berubahlah angka pertama di usiaku saat ini
Tidak lagi belasan namun puluhan
Kata orang, inilah masa peralihan
Dimana kau dituntut untuk menjadi dewasa
Namun apakah aku siap?
Bagaimana kehidupanku selama satu tahun ke depan masih dipertanyakan
Apakah banyak perubahan?
Atau statis saja seperti tahun sebelumnya?
Setidaknya aku sudah memiliki cerita untuk hari ini
Satu cerita dengan kompleksnya rasa
Bagaimanapun perasaan yang aku rasakan saat ini
Aku hanya mampu bersyukur
Atas nikmat sehat dan bertambahnya usia yang Allah berikan padaku
Atas orang-orang yang masih berusaha menjadikan hari ini spesial untukku
Sehingga menjadi salah satu hari yang paling berkesan bagiku
Semoga di usiaku saat ini aku mampu
Mampu membuat sikap dan sifatku menjadi lebih dewasa
Mampu membuat orangtuaku lebih bangga padaku
Mampu membuat perubahan-perubahan positif
Mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya
Mampu membuktikan pada semua orang bahwa aku bisa
Bismillahirrohmanirrohim
Bertambahnya usiaku
Berkurangnya waktuku di dunia
Ku niatkan perbaikan
Semoga Allah memudahkan
Karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaannya sendiri, bukan?
Minggu, 20 September 2015
Rabu, 05 Agustus 2015
Diantara Dua Kemungkinan
Iya atau tidak
Bertahan atau menyerah
Ingat atau melupakan
Memperjuangkan atau menghentikan
Mengerti atau muak
Sedih atau bahagia
Bangga atau menyesal
Dan waktulah yang akan menjawabnya...
Bertahan atau menyerah
Ingat atau melupakan
Memperjuangkan atau menghentikan
Mengerti atau muak
Sedih atau bahagia
Bangga atau menyesal
Dan waktulah yang akan menjawabnya...
Sabtu, 20 Juni 2015
Dimanakah Rasa Ikhlas Itu Ada?
Ikhlas,
sebuah kata yang sudah sangat familiar di telingaku
Beberapa
kali aku pun mencoba mencari makna dibaliknya
Mungkin
aku memang sudah paham dan mengerti maksudnya
Namun
apakah aku mampu dalam mengaplikasikannya?
Dalam
sebuah masalah yang terjadi beberapa waktu yang lalu
Aku
benar-benar belajar untuk mengikhlaskan
Namun
ternyata tidak semudah yang aku bayangkan
Tidak
semudah bibir yang melontarkan
Dalam
konteks ini yang tahu hanyalah Allah semata
Bahkan
aku belum dapat membedakan antara sudah dan belum
Atau
mungkin tidak?
Aku
bertanya dimanakah rasa ikhlas itu ada?
Jumat, 15 Mei 2015
Skenario Allah
Satu hari ini aku benar-benar merasakan indahnya
skenario yang Allah ciptakan.
Yang tersirat di sebuah permasalahan dalam waktu 24
jam.
Serta menyadarkanku akan sempurnanya sosok kedua
orangtuaku.
Pedulinya keluarga, teman, serta orang terdekatku.
Awalnya aku berkata, “Ah kok gini..” atau “Kenapa
sih blablabla”.
Sampai akhirnya aku berkata, “Alhamdulillah ternyata
ini salah satu skenerio indah Allah untukku”.
Tidak semua masalah terasa pahit, karena hari ini
aku merasakan manisnya.
Maka berhusnuzonlah kepada Allah selalu untuk semua
hal yang terjadi pada kita.
Semuanya tak ada yang kebetulan, hanya saja tak
pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.
Karena Allah telah membuat skenerio-Nya lebih indah
dari skenario terindah milik manusia.
Jumat, 01 Mei 2015
Tanjung Lesung Beach Club
Luxury is anything that feels special
I mean it can be a moment which is walk on the beach
Being around of my friends and we'd be laughing, take a picture, having a best time
Being around of my friends and we'd be laughing, take a picture, having a best time
And also give a surprise to our friend in her birthday
Because I think luxury doesn't necessarily have to mean expensive
Just enjoy a beutiful beach destination
Feel like you blend with the nature
Feel like you blend with the nature
Minggu, 19 April 2015
Undefined Feeling
Semuanya berasal dari hati ini
Aku pun mencoba untuk menerjemahkannya
Tapi sepertinya semuanya kurang rasional untuk diterima oleh otakku
Sebenarnya apa yang sedang kurasakan?
Tak seperti biasanya, perasaan ini sungguh jauh berbeda
Seharusnya tidak seperti ini!!
Perasaan, logika, dan emosiku sudah tidak seirama
Seperti tetesan hujan yang saat ini sedang beraksi di depanku
Ya, sepertinya alam pun mengerti dan mencoba untuk memperlihatkannya kepadaku
Hujan, angin, dan petir berlaga di sore ini
Menemani aku yang duduk terdiam di emperan sebuah toko
Merasa sendiri dan sepi walau dikelilingi sekerumun orang dan kendaraan yang lalu lalang
Seperti mengajakku berlari dan membiarkan aku terlibat di dalamnya
Sebuah cahaya dengan pola tertentu sesekali muncul di langit yang kelabu
Kemudian diikuti gemuruh yang membangunkanku dari lamunan
Entah kenapa aku tenggelam di suasana seperti ini
Tenggelam jauh ke dalam diriku sendiri
Tiba-tiba aku teringat akan perkataan itu
Perkataan yang biasanya membangkitkan semangatku
Namun untuk kali ini terasa berbeda
Semuanya menguap begitu saja
Aku tau memang ada yang salah dengan perasaanku
Apakah kau tahu apa itu?
Apakah kau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini?
Tolonglah bantu aku untuk menerima semua alasan itu...
Sampai hujan ini reda aku masih disini
Entah untuk apa, aku pun tak tahu
Tak ada hal yang kutunggu
Mungkin aku akan beranjak dari sini saat aku mengetahui semua alasan dibalik tak terdefinisikannya perasaanku ini.....
Aku pun mencoba untuk menerjemahkannya
Tapi sepertinya semuanya kurang rasional untuk diterima oleh otakku
Sebenarnya apa yang sedang kurasakan?
Tak seperti biasanya, perasaan ini sungguh jauh berbeda
Seharusnya tidak seperti ini!!
Perasaan, logika, dan emosiku sudah tidak seirama
Seperti tetesan hujan yang saat ini sedang beraksi di depanku
Ya, sepertinya alam pun mengerti dan mencoba untuk memperlihatkannya kepadaku
Hujan, angin, dan petir berlaga di sore ini
Menemani aku yang duduk terdiam di emperan sebuah toko
Merasa sendiri dan sepi walau dikelilingi sekerumun orang dan kendaraan yang lalu lalang
Seperti mengajakku berlari dan membiarkan aku terlibat di dalamnya
Sebuah cahaya dengan pola tertentu sesekali muncul di langit yang kelabu
Kemudian diikuti gemuruh yang membangunkanku dari lamunan
Entah kenapa aku tenggelam di suasana seperti ini
Tenggelam jauh ke dalam diriku sendiri
Tiba-tiba aku teringat akan perkataan itu
Perkataan yang biasanya membangkitkan semangatku
Namun untuk kali ini terasa berbeda
Semuanya menguap begitu saja
Aku tau memang ada yang salah dengan perasaanku
Apakah kau tahu apa itu?
Apakah kau juga merasakan apa yang kurasakan saat ini?
Tolonglah bantu aku untuk menerima semua alasan itu...
Sampai hujan ini reda aku masih disini
Entah untuk apa, aku pun tak tahu
Tak ada hal yang kutunggu
Mungkin aku akan beranjak dari sini saat aku mengetahui semua alasan dibalik tak terdefinisikannya perasaanku ini.....
Kamis, 12 Maret 2015
Memiliki, Mencintai, dan Mensyukuri
Aku benar-benar menyadarinya saat ini
Aku dan milikku, kau dan milikmu, kita dan milik kita, dia dan miliknya, serta mereka dan milik mereka
Semua telah berada dan berjalan pada orbitalnya
Tuhan memberikannya bukan tanpa alasan
Dibalik rasa ingin atau membutuhkan
Dibalik menerima atau menolaknya
Rasa memiliki tentu suatu hal yang manusiawi
Walaupun pada hakikatnya semua itu hanyalah titipan
Memiliki apa yang dibutuhkan dan apa yang orang lain inginkan
Memiliki sesuatu yang diidamkan dan yang tak diharapkan
Semua yang telah kita miliki itu pasti yang terbaik
Hanya saja kita yang kurang dapat menghargainya
Saat anggapan tak adil itu muncul
Mungkin hanya dengan cinta kita mampu menjadikannya indah
Mencintai segala hal yang telah kita miliki
Tanpa tapi dan tanpa dengki
Karena seringkali cinta itu datang kala semuanya telah sirna
Ego yang telah menjadikannya terlambat hingga penyesalanlah yang timbul setelahnya
Saat kita telah mencintai apa yang kita miliki
Saat kita telah menghargai apa yang telah Tuhan berikan
Saat rasa syukur itu timbul di benak kita
Barulah kita menyadari betapa berharganya semua itu
Karena kita tidak pernah tahu
Barangkali ada seseorang yang menginginkan berada pada posisi kita saat ini
Tentang memiliki, mencintai, dan mensyukuri
Rasa memiliki yang dilandaskan dengan menjaga amanah yang telah Tuhan berikan
Mencintainya dengan setulus hati karena kita takkan pernah tahu kapan semua itu akan pergi
Kita hanya perlu menanamkan semua itu sejak dini
Untuk mengetahui arti dari mensyukuri
Karena manusia yang memiliki segala hal yang dia butuhkan akan kalah dengan manusia yang mensyukuri segala hal yang dia miliki
Aku dan milikku, kau dan milikmu, kita dan milik kita, dia dan miliknya, serta mereka dan milik mereka
Semua telah berada dan berjalan pada orbitalnya
Tuhan memberikannya bukan tanpa alasan
Dibalik rasa ingin atau membutuhkan
Dibalik menerima atau menolaknya
Rasa memiliki tentu suatu hal yang manusiawi
Walaupun pada hakikatnya semua itu hanyalah titipan
Memiliki apa yang dibutuhkan dan apa yang orang lain inginkan
Memiliki sesuatu yang diidamkan dan yang tak diharapkan
Semua yang telah kita miliki itu pasti yang terbaik
Hanya saja kita yang kurang dapat menghargainya
Saat anggapan tak adil itu muncul
Mungkin hanya dengan cinta kita mampu menjadikannya indah
Mencintai segala hal yang telah kita miliki
Tanpa tapi dan tanpa dengki
Karena seringkali cinta itu datang kala semuanya telah sirna
Ego yang telah menjadikannya terlambat hingga penyesalanlah yang timbul setelahnya
Saat kita telah mencintai apa yang kita miliki
Saat kita telah menghargai apa yang telah Tuhan berikan
Saat rasa syukur itu timbul di benak kita
Barulah kita menyadari betapa berharganya semua itu
Karena kita tidak pernah tahu
Barangkali ada seseorang yang menginginkan berada pada posisi kita saat ini
Tentang memiliki, mencintai, dan mensyukuri
Rasa memiliki yang dilandaskan dengan menjaga amanah yang telah Tuhan berikan
Mencintainya dengan setulus hati karena kita takkan pernah tahu kapan semua itu akan pergi
Kita hanya perlu menanamkan semua itu sejak dini
Untuk mengetahui arti dari mensyukuri
Karena manusia yang memiliki segala hal yang dia butuhkan akan kalah dengan manusia yang mensyukuri segala hal yang dia miliki
Kamis, 26 Februari 2015
Minggu, 15 Februari 2015
Sebuah Pesan Tersembunyi

Saat kau sembunyikan daun kering di genggamanmu
Kau harus sangat berhati-hati
Karena daun kering sangatlah rapuh
Jika kau kuatkan genggamanmu, daun itu akan hancur
Namun jika kau longgarkan, daun itu akan terbang dan hilang
Sesederhana itu,
Hanya kau yang tahu harus bagaimana dalam memperlakukannya :)
Kamis, 12 Februari 2015
Inilah Caraku
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengutarakan segala hal yang sedang dia pikirkan atau rasakan.
Begitupun aku, aku memiliki caraku sendiri untuk mengungkapkannya.
Entah menceritakannya kepada orang lain, menangis, atau menulis.
Menulis adalah salah satu caranya, mengapa?
Karena dengan menulis aku dapat menumpahkan segala emosiku.
Aku menulis pun dengan caraku, tentu setiap orang memiliki cara dan tujuannya masing-masing bukan?
Tidak semua masalah dapat kuungkapkan secara terang-terangan, mungkin ada bagian yang kusembunyikan.
Namun sebenarnya tanpa kalian tau maksudnya tersirat dari kata-kata yang kutuangkan.
Karena itu adalah masalah pribadiku dan tidak seharusnya semua orang mengetahuinya.
Jadi mungkin saja ada banyak makna yang muncul dari satu tulisan yang sama.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Kemajemukan penafsiran ini terjadi pada salah satu postingan di blogku.
Ada seseorang yang membacanya dan dia menyimpulkannya sendiri.
Sebenarnya aku pun tidak tau apa yang ada di kepalanya, namun kata-kata yang dia tujukan padaku jelas sekali menggambarkan apa yang sedang dia pikirkan.
Dia mengutip beberapa kalimat yang terdapat dalam tulisanku itu.
Lalu membuat sebuah pertanyaan yang dia ajukan kepadaku melalui sebuah sosial media.
Entah dia yang selalu berpikiran negatif tentangku, atau memang ada kata-kata dalam tulisanku itu yang salah?
Namun jika dia memiliki penafsiran tersendiri aku pun mewajarinya.
Sudah kukatakan, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menafsirkan setiap tulisan.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Namun pantaskah jika menyampaikannya melalui sosial media?
Apalagi dia mengungkapkannya seakan-akan apa yang dipikirkannya itu benar tanpa menanyakan kebenarannya kepadaku.
Apakah itu pantas?
Begitupun aku, aku memiliki caraku sendiri untuk mengungkapkannya.
Entah menceritakannya kepada orang lain, menangis, atau menulis.
Menulis adalah salah satu caranya, mengapa?
Karena dengan menulis aku dapat menumpahkan segala emosiku.
Aku menulis pun dengan caraku, tentu setiap orang memiliki cara dan tujuannya masing-masing bukan?
Tidak semua masalah dapat kuungkapkan secara terang-terangan, mungkin ada bagian yang kusembunyikan.
Namun sebenarnya tanpa kalian tau maksudnya tersirat dari kata-kata yang kutuangkan.
Karena itu adalah masalah pribadiku dan tidak seharusnya semua orang mengetahuinya.
Jadi mungkin saja ada banyak makna yang muncul dari satu tulisan yang sama.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Kemajemukan penafsiran ini terjadi pada salah satu postingan di blogku.
Ada seseorang yang membacanya dan dia menyimpulkannya sendiri.
Sebenarnya aku pun tidak tau apa yang ada di kepalanya, namun kata-kata yang dia tujukan padaku jelas sekali menggambarkan apa yang sedang dia pikirkan.
Dia mengutip beberapa kalimat yang terdapat dalam tulisanku itu.
Lalu membuat sebuah pertanyaan yang dia ajukan kepadaku melalui sebuah sosial media.
Entah dia yang selalu berpikiran negatif tentangku, atau memang ada kata-kata dalam tulisanku itu yang salah?
Namun jika dia memiliki penafsiran tersendiri aku pun mewajarinya.
Sudah kukatakan, setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menafsirkan setiap tulisan.
Tergantung siapa yang membacanya dan dari sudut pandang mana dia melihatnya.
Namun pantaskah jika menyampaikannya melalui sosial media?
Apalagi dia mengungkapkannya seakan-akan apa yang dipikirkannya itu benar tanpa menanyakan kebenarannya kepadaku.
Apakah itu pantas?
Minggu, 01 Februari 2015
1095 Days in 1095 Words
Hari ini, 1 Februari 2012 lahirlah sebuah kata yaitu “kita”
Yang akan melahirkan ribuan kata dalam rangkaian cerita cinta
Kau, orang asing yang masuk ke kehidupanku tanpa kuminta sebelumnya
Sungguh singkat, tak terduga, bahkan aneh kumenyebutnya
Siapa kau? Bukan temanku, bukan sahabatku, bukan orang yang ada di sekililingku
Aku sungguh tidak mengenalmu
Bahkan pertemuan pertama kita tidak begitu istimewa
Kau hanyalah seniorku di sekolah ini yang kebetulan satu ekstrakulikuler denganku
Hari itu kau mulai mengirim sebuah pesan singkat
Lagu lama yang kau mainkan, jelas saja aku seketika menyadarinya
Hanya karena perasaan “tak enak hati” karena kau senior maka aku membalasnya
Namun anehnya, mengapa aku terus membalas pesanmu?
Sedangkan aku tau apa maksud dan tujuannya, hanya pesan berisi modus belaka
Sungguh aku
Mungkin benar yang kau katakan, kau datang di waktu yang tepat
Saat aku merasa “kosong” kau datang dan mulai mengisi relung yang kosong itu
Ah, tapi bukan itu!!
Kau bukan orang pertama yang datang saat aku merasa “kosong”
Ada orang yang datang di waktu yang lebih tepat tapi dia tidak dapat mengisinya
Kau tau? Aku mendapatkan kenyamanan darimu
Entah datang darimana, karena sikapmu sama seperti mereka yang sebelumnya telah datang padaku
Bagaimana kau dapat melakukannya?
Bahkan kau terlalu hebat dapat membuatku menceritakan masalahku saat itu
Siapa kau? Kenapa aku terlalu berani menceritakannya kepadamu?
Kau orang baru bagiku, sungguh aneh aku mempercayaimu untuk hal seperti itu
Sampai pada akhirnya datanglah tanggal 1 Februari 2012
Aku berkata “ya” untuk pertanyaanmu itu, apakah ada yang salah denganku?
Aku baru mengenalmu dua minggu lalu, waktu yang sangat singkat untuk membuat keputusan
Seketika aku tidak yakin atas jawabanku itu
Jujur, keputusanku itu tidak kupikirkan secara matang karena alhasil membuat sebuah masalah baru
Teman-temanku merasa bingung, menurutnya ini sebuah keputusan yang salah
Melihat hubunganku sebelumnya yang berakhir bukan karena masalah internal
Semuanya membuatku merasa bersalah, terutama kepadanya
Berminggu-minggu setelah aku bersamamu aku masih memikirkannya
Aku merasa menjadi orang yang sangat jahat, kepadamu maupun kepadanya
Hari demi hari kujalani bukan tanpa terpaksa, kadang aku merasa begitu bersalah
Karena di luar sana teman-temanku selalu saja mengingatkanku denganya
Namun inilah keputusanku, aku harus mempertanggungjawabkannya
Seringkali aku berpikir “sudahlah sepertinya ini tidak akan berlangsung lama”
Aku pun mulai menghilangkan perasaan bersalah kepadanya setelah sekian kali mengucap maaf
Dan mulai menjalani hubunganku yang baru denganmu
Walaupun aku masih merasa canggung dan masih menyebutmu “kakak”
Perasaan aneh ini mulai muncul di benakku yang semakin membuatku bingung
Kau mematahkan dugaanku jika hubungan ini tidak akan berlangsung lama
Hanya dalam beberapa bulan kau sudah dapat membuatku melupakannya
Membuatku merasakan sebuah rasa sayang, bukan untuknya tapi untukmu
Menjadikan rasa nyaman yang kudapatkan waktu itu terus bertambah dari sebelumnya
Sudah kukatakan, kau memang orang yang hebat
Ingatkah kau saat kita merayakan ulang tahunku yang ke-17 waktu itu?
Kau memberiku sebuah hadiah bantal berbentuk kepala doraemon yang membuatku menyukainya hingga saat ini
Walaupun hari itu kita sempat bersitegang namun kau selalu menjadikan indah pada akhirnya
Dua bulan berikutnya kita merayakan ulangtahunmu
Sajadah itu membuatmu meneteskan air mata atau karena tulisan yang kuberikan padamu?
Ku ingin kau tau akan satu hal, walaupun awalnya aku merasa ragu tapi saat itu aku telah memiliki sebuah mimpi untuk bersamamu
Sajadah itu sebagai tanda bahwa aku ingin kau menjadi imamku kelak
Namun aku masih duduk di bangku kelas satu SMA apakah terlalu dini untuk memikirkan hal seperti itu?
Tahun pertama sudah kita jalani bersama
Kesedihan, keegoisan, tawa, dan air mata telah menjadi bagiannya
Permasalahan waktu dan kesibukanku sering sekali menjadi alasannya
Namun kita mencoba untuk selalu mencari jalan keluarnya
Bukan hanya itu, beberapa masalah eksternal pun berdatanganan
Kau yang sedang menyukai temanmu dan menceritakannya kepadaku
Apakah kau sudah gila? Tidakkah kau memikirkan bagaimana perasaanku saat itu?
Beruntung aku bukan "drama queen" yang selalu berlebihan dalam menghadapi sebuah masalah
Jujur aku kecewa dan sakit hati atas pernyataanmu saat itu, merasa tak dihargai sama sekali
Namun aku berpikir dari sisi positifnya, kau sudah berani jujur dan membicarakannya langsung denganku
Sehingga aku tidak perlu mendengar dari mulut orang lain yang pasti sudah dibubuhi bumbu-bumbu penyedap lainnya
Setidaknya aku masih menghargai kejujuranmu itu
Aku pun sadar perasaan itu adalah milikmu, dan bukan hakku mencampuri kepada siapa kau akan memberikannya
Sampai dua tahun berjalan kita pun mulai merasa jenuh
Karena hubungan yang kita jalani ini backstreet tanpa sepengetahuan orangtuaku
Kau hanya mengantarku ke depan gang rumahku
Jika ingin pergi pun sulit karena tidak mendapatkan izin dari orangtuaku
Sampai pada akhirnya kita sepakat untuk break, yang sebenarnya aku pun tidak mengerti apa maksud dari kata itu
Kita sudah jarang berkomunikasi, atau mungkin hampir tidak pernah
Kau mulai dekat dengan beberapa teman perempuanmu salah satunya dia, kau pasti tau siapa dan begitu pula aku
Bahkan kita seperti menemukan dunia kita masing-masing tanpa melibatkan satu sama lain
Sampai pada akhirnya semua itu hanyalah rangkaian cerita yang tidak selesai
Kita sama-sama menghentikannya di tengah jalan dan kembali
Kembali kepada seseorang yang tetap membuatmu nyaman kala raga tak bersama
Benar apa yang orang katakan di luar sana tentang istilah rumah dengan cinta
Seberapa sering pun kita singgah di berbagai tempat, kita tetap akan kembali ke rumah kita sendiri
Dan inilah yang terjadi pada kita saat ini, kita kembali melanjutkan mimpi yang sempat terhenti
Kisah kita terlalu rumit, aku sulit sekali untuk memahaminya
Kenapa kita mampu berjalan sejauh ini bersama?
Sampai pada akhirnya kita menginjakan kaki di hari ini 1 Februari 2015
Inikah jawaban atas semua bisikan doa yang kupanjatkan saat senja maupun petang?
Entahlah.....
Yang pasti semua perkataanmu selalu berbisik di telingaku dan selalu membuat mataku berkaca-kaca
Saat kau katakan "aku akan bertahan walau bagaimanapun mengesalkannya dirimu, aku akan tetap melanjutkan mimpi kita dan selalu memperjuangkannya"
1095 hari kita bersama, dengan begitu banyak rintangan di dalamnya
Apakah itu waktu yang lama? Atau justru hanya sebagian kecil dari waktu yang ada?
Entahlah……
Yang aku tahu di tanggal satu bulan dua tahun ketiga ini kita masih bersama
Untuk tetap saling berbagi cerita, tetap melanjutkan mimpi yang ada
Terimakasih atas segalanya, entah itu senyuman ataupun air mata
Kau telah mengajarkanku banyak hal, tentang makna cinta dalam sebuah kehidupan
***
Untukmu,
Wahai orang asing yang datang dalam kehidupanku
Kau membawaku ke dalam sebuah rangkaian cerita cinta yang rumit
Namun aku bersyukur atas segalanya
Atas dipertemukannya kita di hari itu, atas pertanyaanmu dan jawabanku
Terimakasih atas ketulusan cinta, pengorbanan, serta kesabaranmu
Wahai orang asing yang datang dalam kehidupanku
Kau membawaku ke dalam sebuah rangkaian cerita cinta yang rumit
Namun aku bersyukur atas segalanya
Atas dipertemukannya kita di hari itu, atas pertanyaanmu dan jawabanku
Terimakasih atas ketulusan cinta, pengorbanan, serta kesabaranmu
Terimakasih atas segala perubahan yang kau lakukan untukku
Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi apa yang kau mau
Maaf jika aku selalu membuatmu kesal atas segala sikapku
Kuharap kau selalu berada disini untuk membimbingku
Berjalan bersama untuk mewujudkan mimpi kita
Because I loved you yesterday, I love you still, I always have, and I always will :)
Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi apa yang kau mau
Maaf jika aku selalu membuatmu kesal atas segala sikapku
Kuharap kau selalu berada disini untuk membimbingku
Berjalan bersama untuk mewujudkan mimpi kita
Because I loved you yesterday, I love you still, I always have, and I always will :)
Rabu, 21 Januari 2015
Hujan dan Harapan
Hanya doaku yang bergetar malam ini
Saat sapaan rintiknya mulai membasahi bumi
Layaknya ketukan yang berulang
Walau di lain saat menjelma menjadi sejumlah angka yang sulit
Dan menerka jawaban atas angka-angka yang sulit itu
Namun pada akhirnya menjadikannya tertunda
Atau mungkinkah ini sebuah harapan yang salah?
(Ku tak pernah memiliki jawaban atasnya)
Yang ku tahu pasti
Hujan adalah arloji sejati
Tak pernah lelah berdetak
Yang akan memberikan kita sebuah jawaban
Entah esok entah nanti
Atas Nama Waktu
Yang membawaku pada hari ini
Rabu, 21 Januari 2015
Kebanggaan Tersendiri
Alhamdulillah…
Lega rasanya melihat IP pertamaku
Sangat berkesan dan menjadikanku lebih semangat
Walaupun hanya lebih 0,09 dari targetku
Setidaknya aku telah mencapainya untuk di semester ini
Sebenernya aku masih belum puas atasnya
Aku yakin aku mampu mendapatkan lebih dari ini
Jika aku sedikit lebih serius dalam belajar
Dan lebih dislipin untuk membagi waktuku
Walaupun aku tau IP bukan tolok ukur dari sebuah keberhasilan
Tapi ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri
Agar aku dapat membuktikan kepada semua orang
Walaupun aku tinggal di perantauan yang jauh dari orangtua
Aku tidak sekedar main-main
Disini aku berjuang untuk membanggakan orangtuaku
Bukan hanya untuk mendapatkan sebuah gelar
Tapi juga untuk merealisasikan mimpiku
Lega rasanya melihat IP pertamaku
Sangat berkesan dan menjadikanku lebih semangat
Walaupun hanya lebih 0,09 dari targetku
Setidaknya aku telah mencapainya untuk di semester ini
Sebenernya aku masih belum puas atasnya
Aku yakin aku mampu mendapatkan lebih dari ini
Jika aku sedikit lebih serius dalam belajar
Dan lebih dislipin untuk membagi waktuku
Walaupun aku tau IP bukan tolok ukur dari sebuah keberhasilan
Tapi ini menjadi sebuah kebanggan tersendiri
Agar aku dapat membuktikan kepada semua orang
Walaupun aku tinggal di perantauan yang jauh dari orangtua
Aku tidak sekedar main-main
Disini aku berjuang untuk membanggakan orangtuaku
Bukan hanya untuk mendapatkan sebuah gelar
Tapi juga untuk merealisasikan mimpiku
Sabtu, 17 Januari 2015
12 Great Hours
GREAT!!
Mungkin itu salah satu kata yang dapat menggambarkan hari ini
Berlebihan?
Menurutku tidak
Kenapa?
Karena aku yang menjalankan dan aku pulalah yang merasakan
Mungkin itu salah satu kata yang dapat menggambarkan hari ini
Berlebihan?
Menurutku tidak
Kenapa?
Karena aku yang menjalankan dan aku pulalah yang merasakan
Pergi ke tempat yang berisi 100 doraemon
Beserta peralatan ajaibnya
Bagi orang yang sangat menyukainya tentu sangat menyenangkan
Ditambah lagi ditemani orang yang menyenangkan pula
Jadi, terbayang kan bagaimana menyenangkannya hariku?
Setelah lelah berkeliling di 100 Doraemon Secret Gadget Expo
Aku hanya duduk-duduk di pantai
Tapi entah kenapa aku lebih menikmati saat-saat disini
Berlatarkan pantai yang tenang
Diiringi musik yang dimainkan
Dikelilingi anak-anak yang bermain pasir putih
Angin yang berhembus kencang
Ah, inilah yang menggambarkan “aku”
Namun yang pasti hariku menyenangkan karenamu
Karena kudapatkan kesan yang berbeda untuk hari ini
Naik turun bus
Jalan kaki di sepanjang trotoar
Mengantri hanya untuk berfoto di depan doraemon
Menikmati suasana pantai yang nyaman
Dan membicarakan banyak hal sepanjang hari
Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini
Walaupun sangat melelahkan tapi semuanya terbayarkan
I’m waitin for another great day soon ;D
Beserta peralatan ajaibnya
Bagi orang yang sangat menyukainya tentu sangat menyenangkan
Ditambah lagi ditemani orang yang menyenangkan pula
Jadi, terbayang kan bagaimana menyenangkannya hariku?
Setelah lelah berkeliling di 100 Doraemon Secret Gadget Expo
Aku hanya duduk-duduk di pantai
Tapi entah kenapa aku lebih menikmati saat-saat disini
Berlatarkan pantai yang tenang
Diiringi musik yang dimainkan
Dikelilingi anak-anak yang bermain pasir putih
Angin yang berhembus kencang
Ah, inilah yang menggambarkan “aku”
Namun yang pasti hariku menyenangkan karenamu
Karena kudapatkan kesan yang berbeda untuk hari ini
Naik turun bus
Jalan kaki di sepanjang trotoar
Mengantri hanya untuk berfoto di depan doraemon
Menikmati suasana pantai yang nyaman
Dan membicarakan banyak hal sepanjang hari
Terimakasih untuk hari yang menyenangkan ini
Walaupun sangat melelahkan tapi semuanya terbayarkan
I’m waitin for another great day soon ;D
Senin, 12 Januari 2015
(Lagi)
Untuk kesekian kalinya
Kau melakukannya lagi?
Sampai kapan kau akan seperti ini?
Selalu? Selamanya?
Aku bosan melihatnya
Aku merasa tak kau hargai
Merasa diacuhkan
Atau mungkin diremehkan
Entahlah
Awalnya emosi memuncak
Ribuan kata terlontarkan
Namun kau bilang itu berlebihan?
Baiklah aku diam
Diam?
Aku hanya ingin terlihat benar olehmu
Dan mengurangi emosiku
Untuk pribadi yang lebih baik
Serta untukmu
Mungkin kau menyadari perubahan sikapku
Aku tidak lagi seperti itu
Karena aku sudah lelah
Lelah atas semuanya
Untuk kesekian kalinya
Sesak
Saat kuterbangun
Jarum jam sudah mengarah pada angka 5
Apakah aku melakukannya lagi?
Lelah
Selalu saja begini
Dilanda kepanikan
Berbalut perasaan bersalah
Ah,
Tidak bisakah aku menguranginya?
Sedikit saja?
Akankah terus seperti itu?
Walaupun hal itu wajar
Tapi tidak jika sudah berulang kali
Bahkan berita terkini yang sedang hangat dibicarakan
Jadi membosankan ketika selalu ditayangkan
Maafkan aku
Sungguh itu bukan maksudku
Aku pun sama sepertimu
Merasa lelah atas segala sikapku
Kau melakukannya lagi?
Sampai kapan kau akan seperti ini?
Selalu? Selamanya?
Aku bosan melihatnya
Aku merasa tak kau hargai
Merasa diacuhkan
Atau mungkin diremehkan
Entahlah
Awalnya emosi memuncak
Ribuan kata terlontarkan
Namun kau bilang itu berlebihan?
Baiklah aku diam
Diam?
Aku hanya ingin terlihat benar olehmu
Dan mengurangi emosiku
Untuk pribadi yang lebih baik
Serta untukmu
Mungkin kau menyadari perubahan sikapku
Aku tidak lagi seperti itu
Karena aku sudah lelah
Lelah atas semuanya
Untuk kesekian kalinya
Sesak
Saat kuterbangun
Jarum jam sudah mengarah pada angka 5
Apakah aku melakukannya lagi?
Lelah
Selalu saja begini
Dilanda kepanikan
Berbalut perasaan bersalah
Ah,
Tidak bisakah aku menguranginya?
Sedikit saja?
Akankah terus seperti itu?
Walaupun hal itu wajar
Tapi tidak jika sudah berulang kali
Bahkan berita terkini yang sedang hangat dibicarakan
Jadi membosankan ketika selalu ditayangkan
Maafkan aku
Sungguh itu bukan maksudku
Aku pun sama sepertimu
Merasa lelah atas segala sikapku
Langganan:
Postingan (Atom)











